Rabu, 06 Januari 2016

Laporan Praktikum Fisika Dasar 1



Asisten: 1.Ratna Widya Sari
                2.Hardianti Rukmana
                3.Adek saputri
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I
Pengukuran Dimensi
Pengukuran Massa Jenis
Bandul Matematis
Oleh:
NO
NAMA KELOMPOK
NIM
1
M.WAISY AZHURI QORNI
1414010
2
JAMES SUTOMO
1414006

LABORATORIUM FISIKA DASAR
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
PASIR PENGARAIAN
2015
Latar Belakang
         Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulaidari yang ada dari diri kita sendiri seperti gerak yang kita lakukan setiap saat,energi yang kita pergunakan setiap hari sampai pada sesuatu yang berada diluar diri kita,seperti yang ada dilingkungan kita.
        Dalam jenjang perguruan tinggi, seorang mahasiswa diharapkan tidak hanya mengikuti perkuliahan dengan baik, namun lebih dari itu juga dituntut untuk mendalami dan menguasai disiplin ilmu yang dipelajarinya sehingga nantinya akan menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata dan bermanfaat bagi masyarakat.

        Disiplin ilmu teknik merupakan disiplin ilmu yang eksak dan banyak menerapkan ilmu-ilmu murni yang diterapkan kepada masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bidang-bidang keteknikan mutlak untuk dikuasai mahasiswa teknik, tidak hanya dari segi teori juga dari segi prakteknya. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi saat ini, serta pasar bebas yang akan segera kita masuki, lebih menuntut penguasaan dan penerapannya dalam menghadapi masalah-masalah yang kompleks.
       Ternyata dalam aplikasi ilmu tersebut, tgas yang diberikan kepada mahasiswa tidak akan dikuasai sempurna tanpa adanya praktek-praktek yang merupakan salah satu sarana yang baik untuk menguasai ilmu sekaligus mempraktekannya. Demikian juga dengan praktikum Fisika Dasar I ini.
Fisika dalam bidang teknik khususnya Teknik Sipil merupakan hal yang sangat penting dan benar-benar harus dikuasai secara teori dan praktek. Dengan latar belakang itulah, maka kami mahasiswa teknik sipil semester I diberi tugas praktikum mata kuliah Fisika Dasar yang dilaksanakan di Laboratorium Pusat dibawah bimbingan dosen dan team asisten pembantu dosen.
 

Tujuan Penulisan
1.Memperdalam wawasan pengetahuan tentang mata kuliah Fisika Dasar I.
2.Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh praktikum fisika dasar I dalam kehidupan sehari-hari.
3.Dapat menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan benar.
4.Mengembangkan daya nalar mahasiswa untuk menganalisa data dan membuktikankebenaran ilmiah.
5.Menunjang pemahaman materi kuliah yang disampaikan dosen.


PRAKTIKUM PENGUKURAN DIMENSI
                   
A.   Tujuan Praktikum
Tujuan dari dilakukannya praktikum tentang pengukuran ini yaitu untuk mengetahui fungsi dan cara menggunakan beberapa alat ukur seperti mikrometer sekrup,jangka sorong, neraca lengan, termometer, timbangan, mistar.

B.    Alat dan Bahan  
1.    Mistar
2.   jangka Sorong
3.    Mikrometer Sekrup
4.    Timbangan (Neraca Ohauss)
5.    Benda Yang Akan Di Ukur (Penghapus)

C.  Landasan Teori
.
Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka disebut besaran, sedangkan pembanding dalam suatu pengukuran disebut satuan. Satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang sama atau tetap untuk semua orang disebut satuan baku, sedangkan satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang tidak sama untuk orang yang berlainan disebut satuan tidak baku.
Dalam pengukuran terdapat besaran pokok yaitu besaran yang satuannya telah didefinisikan terlebih dahulu yang terdiri dari panjang, masssa, waktu, suhu, kuat arus listrik, intensitas cahaya dan jumlah zat dan besaran turunan yaitu besaran yang satuannya diperoleh dari besaran pokok yang terdiri dari luas, volume, massa jenis, kecepatan, percepatan, gaya, usaha, daya, tekanan dan momentum.
1.     Pengukuran panjang benda

a.    Pengukuran panjang dengan mistar
Penggaris atau mistar berbagai macam jenisnya, seperti penggaris yang berbentuk lurus, berbentuk segitiga yang terbuat dari plastik atau logam, mistar tukang kayu, dan penggaris berbentuk pita (meteran pita. Mistar memiliki ketelitian 1 mm atau 0,1 cm. Posisi mata harus melihat tegak lurus terhadap skala ketika membaca skala mistar. Hal ini untuk menghindari kesalahan pembacaan hasil pengukuran akibat beda sudut kemiringan dalam melihat atau disebut dengan kesalahan paralaks.

Pembacaan Skala

            
    
b.    Pengukuran panjang dengan jangka sorong
Jangka sorong merupakan alat ukur panjang yang mempunyai batas ukur sampai 10 cm dengan ketelitiannya 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong juga dapat digunakan untuk mengukur diameter cincin dan diameter bagian dalam sebuah pipa. Bagian-bagian penting jangka sorong yaitu:
1. rahang tetap dengan skala tetap terkecil 0,1 cm
2. rahang geser yang dilengkapi skala nonius. Skala tetap dan nonius mempunyai selisih 1 mm.
     
 Langkah-langkah dalam pembacaan skala pada jangka sorong:
1.    Pembacaan skala utama yang berhimpit dengan skala nonius nol
2.    Skala nonius yang berhimpit tegak dengan skala utama
Jadi, pembacaan jangka sorong tersebut adalah
Skala utama + Skala nonius.
Contoh: Skala utama 2,4 , Skala nonius 0,07
Maka: 2,4 + 0,07 = 2,47 cm.




c.    Pengukuran panjang dengan mikrometer sekrup

Mikrometer sekrup memiliki ketelitian 0,01 mm atau 0,001 cm. Mikrometer sekrup dapat digunakan untuk mengukur benda yang mempunyai ukuran kecil dan tipis, seperti mengukur  ketebalan plat, diameter kawat, dan onderdil kendaraan yang berukuran kecil.
Bagian-bagian dari mikrometer adalah rahang putar, skala utama, skala putar, dan silinder bergerigi. Skala terkecil dari skala utama bernilai 0,1 mm, sedangkan skala terkecil untuk skala putar sebesar 0,01 mm.
                                            
Mikrometer Sekrup
                                        
Langkah-langkah membaca skala pada mikrometer sekrup:
         1.Pembacaan skala utama yaitu adalah yang berhimpit dengan tepi selubung luar.
         2.Pembacaan skala putar yaitu garis selubung luar yang berhimpit tepat dengan garis mendatar skala utama.
Jadi, bacaan mikrometer sekrup itu adalah
Skala utama + Skala putar.
Contoh: Skala utama 13,5 , Skala putar 0,17
                  Maka: 13,5 + 0,17 = 13,67 mm.


2.           Pengukuran Massa Benda
a.     Timbangan (Neraca Ohauss)
Timbangan digunakan untuk mengukur massa benda. Prinsip kerjanya adalah keseimbangan kedua lengan, yaitu keseimbangan antara massa benda yang diukur dengan anak timbangan yang digunakan. Dalam dunia pendidikan sering digunakan neraca O’Hauss tiga lengan atau dua lengan. Perhatikan beberapa alat ukur berat berikut ini.
Bagian-bagian dari neraca O’Hauss tiga lengan adalah sebagai berikut:
• Lengan depan memiliki skala 0—10 g, dengan tiap skala bernilai 1 g.
• Lengan tengah berskala mulai 0—500 g, tiap skala sebesar 100 g.
• Lengan belakang dengan skala bernilai 10 sampai 100 g, tiap skala 10 g.


D.  Proseder Praktikum

1.     Silinder diukur panjang nya menggunakan Mistar, dilakukuan secara bergantian.
2.     Silinder juga diukur panjang nya menggunakan Jangka Sorong, dilakukuan secara bergantian.
3.     Diameter silinder juga di ukur menggunakan jangka sorong dan micrometer sekrup.
4.     Kemudian timbang massa silinder menggunakan neraca ohauss secara bergantian

E. Data Hasil Praktikum

NO
PANJANG SILINDER
DIAMETER SILINDER
MASA KAWAT
MISTAR
JANGKA SORONG
Jangka sorong
Micrometer sekrup
1
Pa3 cm

    Skala utama = 3 cm
    Skala nonius =0,1 cm
             Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya =3,1 cm

Skala utama = 1,5 cm Skala nonius =0,01 cm Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya =1,51 cm


 Skala utama = 1,5 cm
Skala nonius =0,015 cm
Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya =1,515 cm

• Lengan depan bernilai
= 0,4 g.
• Lengan tengah sebesar
=8 g.
• Lengan belakang bernilai
= 0 g.
di jumlahkan, hasilnya
=8,4 g



F.Pembahasan Dan Analisa
             

           Ketika melakukan pengukuran, kita bisa menggunakan penggaris, meteran, miktometer sekrup, jangka sorong, dan neraca ohuass. Pada praktikum ini kita melakukan pengukuran menggunakan alat jangka sorng, mikrometer sekrup, dan neraca ohauss. Alat pengukuran tersebut memiliki kegunaan dan fungsi yang berbeda serta meliki ketelitian yang berbeda juga. Pada alat jangka sorong berfungsi untuk mengukur ketebalan suatu benda, diameter suatu benda, baik diameter dalam maupun  diameter luar. Jangka sorong memiliki ketelitian 0,1 mm. Jangka sorong memiliki skala utama dan skala nonius. Micrometer sekrup memiliki fungsi untuk mengukur panjang benda dengan sangat teliti. Micrometer sekrup memiliki ketelitian 0,01 mm. Mikrometer sekrup memiliki skala utama dan skala putar. Sedangkan neraca ohauss berfungsi untuk mengukur massa suatu benda. Neraca ohauss memiliki berbagai macam bentuk, yaitu neraca tiga lengan dan neraca empat lengan. Prinsip kerja neraca atau timbangan menggunakan prinsip tuas.
                
1.    Pengukuran Menggunakan Mistar.
      Panjang  silinder diukur menggunakan Mistar, hasil dari pengukurannya adalah Panjang  3cm, dan diameter 1,5cm.
2. Pengukuran Menggunakan Jangka Sorong
hasil dari pengukurannya adalah:      
-panjang       
             Skala utama = 3 cm
             Skala nonius =0,1 cm
             Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya 3,1 cm
-diameter
             Skala utama = 1,5 cm
             Skala nonius =0,01 cm
             Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya 1,51 cm
3. Pengukuran Mengunakan Mikrometer  Sekrup
hasil dari pengukurannya adalah:      
-diameter
             Skala utama = 1,5 cm
             Skala nonius =0,015 cm
             Skala utama dan skala  nonius di jumlahkan, hasilnya 1,515 cm
4.Pengukuran Mengunakan neraca ohauss
• Lengan depan bernilai 0,4 g.
• Lengan tengah sebesar 8 g.
• Lengan belakang bernilai 0 g.
di jumlahkan, hasilnya 8,4 g



TUGAS PENDAHULUAN
1.Keunggulan Dan Kekurangan Alat Ukur
NO
NAMA ALAT UKUR
KEUNGGULAN
KEKURANGAN
1
MISTAR
bisa mengukur dan buat garis benda yang panjangx cukup besar (tergantung ukuran mistar)
kurang teliti untuk benda-benda di bawah ketelitian
2
JANGKA SORONG
Dapat mengukur
suatu benda dari sisi
luar,sisi dalam dan kedalaman benda
Angkanya yang kecil dan Tdk dpt mengukur benda yg besar
3
Micrometer sekrup
bisa mengukur dengan ketelitian 0,01mm
jarak pengukurannya pendek

2.Skala Nonius adalah skala pendek pada rahang geser atau putar yang dapat mengukur besaran (misalnya dimensi panjang), dengan ketelitian lebih tinggi dari skala biasa yang hanya sanggup mengukur besaran kasar.

3.Bagian-bagian jangka sorong:
1.     Rahang tetap atas
2.     Rahang tetap bawah
3.     Rahang sorong atas
4.     Rahang sorong bawah
5.     Pengunci atau tombol kunci
6.     Skala nonius
7.     Skala utama
8.     Tangkai ukur kedalaman


4. Faktor faktor pengukuran dapat terjadi kesalahan atau ketidakpastian, yaitu:
1.      Kesalahan kalibrasi. Cara memberi nilai skala pada waktu pembuatan alat tidak tepat sehingga berakibat setiap kali alat digunakan, suatu ketidakpastian melekat pada hasil pengukuran. Kesalahan ini dapat diketahui dengan cara membandingkan alat tersebut dengan alat baku. Alat baku, meskipun buatan manusia juga, dianggap sempurna padanya hampir tidak terdapat kesalahan apapun.
2.      Kesalahan titik nol. Titik nol skala alat tidak berimpit dengan titik nol jarum petunjuk atau jarum tidak kembali tepat pada angka nol.
3.      Kelelahan komponen alat. Misalnya dalam pegas; pegas yang  telah dipakai beberapa lama dapat agak melembek hingga dapat mempengaruhi gerak jarum penunjuk.
4.      Gesekan-gesekan selalu timbul antara bagian yang satu yang bergerak terhadap bagian alat yang lain
TUGAS AKHIR
Panjang dan diameter rata nya:
NO
PANJANG SILINDER
DIAMETER SILINDER
MASA KAWAT
RATA RATA
Mistar
Jangka sorong
Jangka sorong
Micrometer sekrup
Panjang
Diameter
1
Pa=3 cm

    =3,1 cm

=1,51 cm


 =1,515 cm

=8,4 g


3,11 CM
1,5125 CM


Sasatan nya adalah:
 -diameter =0,005 cm
-panjang =0,01





G.Kesimpulan
  Dari percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter luar dan dalam benda, sedangkan mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur ketebalan dan diameter luar suatu benda dengan ketelitian lebih tinggi di bandingkan jangka sorong. Mengukur ketebalan benda seperti plat besi dan diameter koin (lingkaran) lebih mudah dan hasil pengukuran lebih tepat dibandingkan mengukur benda yang berbentuk seperti kelereng.
                Dan dari percobaan di atas kita bisa Mempelajari prinsip-prinsip dasar pengukuran,Menentukan panjang, diameter dalam, diameter luar dan ketebalan benda,Melakukan pengukuran massa benda serta mengetahui fungsi dan cara menggunakan beberapa alat ukur seperti mikrometer sekrup,jangka sorong, neraca lengan, termometer, timbangan, mistar.




















PRAKTIKUM PENGUKURAN MASSA JENIS
                   
A.   Tujuan Praktikum

Tujuan untuk di lakukan percobaan ini adalah untuk mengetahui apa itu massa jenis serta agar dapat menentukan massa jenis zat padat yang bentuk beraturan.

B.    Alat dan Bahan  

1. Mistar
2. jangka Sorong
3. Mikrometer Sekrup
4. Timbangan (Neraca Ohauss)
5. Benda Yang Akan Di Ukur
6. Gelas ukur

C.  Landasan Teori

Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air).Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg·m-3)
Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.Rumus untuk menentukan massa jenis adalah
dengan
ρ adalah massa jenis,
m adalah massa,
V adalah volume.
Satuan massa jenis dalam 'CGS [centi-gram-sekon]' adalah: gram per sentimeter kubik (g/cm3).
1 g/cm3=1000 kg/m3Massa jenis air murni adalah 1 g/cm3 atau sama dengan 1000 kg/m3
Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2 menghitung massa jenis, atau yang dinamakan 'Massa Jenis Relatif'.Rumus massa jenis relatif = Massa bahan / Massa air yang volumenya sama
D.  Proseder Praktikum
1.      Ukur panjang,lebar,dan tinggi kubus dengan mistar masing – masing 4 kali pengukuran di lakukan oleh praktikum yang berbeda.dari data yang di peroleh dapat di hitung volume nya.
2.     Massa dari masing – masing objek (balok,kelereng,dan benda tak beraturan(karet)) ditimbang menggunakan neraca ohauss.
3.     Ukur diameter  kelereng dengan jangka sorong dan micrometer sekrup masing – masing 4 kali pengukuran di lakukan oleh praktikum yang berbeda.dari data yang di peroleh dapat di hitung volume nya.
4.     Ukur volume batu/karet menggunakan gelas ukur.volume benda dapat ditentukan dengan mengambil selisih volume akhir dan volume awal.
5.     Catat semua hasil pengukuran
E. Data Hasil Praktikum
1.pengukuran balok (benda beraturan)
NO
PANJANG (cm)
LEBAR (cm)
TINGGI (cm)
MASSA (gram)
1
8,05
3,83
2,68
62,3
2.pengukuran kelereng
NO
DIAMETER (cm)
JARI-JARI (cm)
MASSA (gram)
1
1,715
0,8625
6,2
3.pengukuran benda tidak beraturan(karet)
NO
Volume Awal Air (ml)
Volume Akhir Air (cm)
Massa (gram)
1
300
350
131,5

F. Pembahasan dan Analisa

1.Analisa

Dari data yang telah terlampir, massa jenis balok kayu dan bola kaca atau kelereng adalah :
  • Massa balok kayu = 62,3 gram
  • Jari jari= 0,8625 cm
P = m/v                         V balok = P x L x t

= 62,3/8,05 x 3,83x 2,68
=62,3/ 82,62842

= 0,7539779 cm3
  • Massa kelereng=6,2 gram
P=m/v                          Volume bola = (4/3) πR3
=6,2: 4/3 x 3,14 x 0,86253
=6,2:4/3 x 2.01468410156
=6,2: 2.68624546875
=2.30805414923
  • Massa batu=131,5
  • Volume batu=350-300= 50
P=m/v
=131,5/50
=2,63



2.Pembahasan

Berdasarkan analisa data dapat dijelaskan bahwa massa jenis yang diperoleh dari masing – masing benda dipengaruhui oleh benda dan volume benda.

Pada percobaan ini sisi – sisi kubus besi dan balok kayu serta diameter kelereng dengan menggunakan jangka sorong yang memiliki ketelitian sampai 0.001 – 0.005 mm. untuk kubus besi dan balok kayu masing – masing (A, B, C, D, E, F,) di ukur dan di ulang sebanyak  3 kali agar dapat di ambil harga rata – rata untuk menhitung volume dari benda tersebut.

Volume kubus besi dihitung dengan persamaan SxSxSxS atau V = A-B x C-D x E-F sedangkan balok kayu dihitungbdengan persamaan V PxLxt dengsan A-B sebagai panjang C-D sebagai lebar dan E-F sebagai tinggi.

Untuk mencari volume kelereng digunakan persamaan V =  jari – jari (r) = ½ diameter dari kelereng tersebut. Adapun satuan satuan yang digunakan untuk massa jenis adalah gr2 / cm3 sehingga satuan volume benda dalam mm3 di ubah kesatuan cm3 sementara massa ketiga benda yang telah ditimbang massa, sudah dalam satuan (gram). Oleh kerena volume benda dan dan massa benda dapat di cari dengan menggunakan persamaan.
TUGAS PENDAHULUAN
1.Cara mengkonversikan dari liter ke cm kubik dan meter kubik:
Liter adalah satuan volume yang digunakan oleh Lembaga Internasional untuk Berat dan Ukuran (International Bureau of Weights and Measures). Satuan liter bukan satuan volume dalam sistem internasional (SI) tetapi dapat dikonversikan dalam satuan SI. Satuan volume dalam SI diturunkan dari satuan panjang. 1 liter sama dengan 1 decimeter kubik atau 1000 centimeter kubik atau 0,001 meter kubik. Liter didefinisikan sebagai volume suatu benda yang menempati ruang berbentuk kubus berukuran panjang 10 cm, lebar 10 cm dan tinggi 10 cm. Jadi satu liter sama dengan 10x10x10 centimeter kubik yaitu 1000 centimeter kubik.


2.Cara mengukur volume benda yang tidak beraturan
Untuk mengukur volume sebuah benda padat dengan bentuk yang tidak beraturan, seperti batu, gunting, pisau dapat dilakukan dengan cara memasukkan benda- benda itumisalnya kedalam gelas ukur.
Mula –mula gelas ukur diisi air sebanyak 100 ml. kemudian benda yang akan diukur volumnya diikat dengan seutas tali halus lalu dimasukkan kedalam gelas ukur tersebut. Misalnya tampak permukaan air dalam gelas ukur naik menjadi 120ml, hal ini berarti volume benda yang diukur adalah ;
V = 120ml – 100ml = 20 ml
Jadi, volume benda yang diukur adalah 20ml
Cara lain untuk mengukur volume benda yang tidak beraturan yang juga dapat diukur dengan gelas ukur berpancuran. Isilah gelas berpancuran dengan air sampai melewati pipa pancurannya, sehingga air akan keluar dari pipa.
3.Pengertian massa jenis
Massa Jenis adalah perbandingan antara massa benda dengan volume benda


G.Kesimpulan

1.     Massa jenis suatu zat adalah bilangan yangmenunjukkan beberapa gram massa tiap 1 cm3 zat itu pada suhu 0oC.
2.     Sifat – sifat padat terbagi yaitu :
Molekul tersusun rapat
Volumnya relative tidak berubah
Keadaan tidak dapat dibagi.
        Setelah melakukan percobaan maka didapat adalah massa jenis balok kayu lebih kecil jumlahnya dari pada massa jenis kubus dan kelereng


PRAKTIKUM BANDUL MATEMETIS
                   
A.   Tujuan Praktikum.    
            Mengukur percepatan gravitasi bumi dengan asas ayunan sederhana.
B.     Alat dan Bahan  
1.tempat penggantung.
2.tali
3.stopwatch
4.mistar
5.beban
6.timbangan
7.susur
C.   Landasan Teori

Bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan. Dalam bidang fisika, prinsip ini pertama kali ditemukan pada tahun 1602 oleh Galileo Galilei, bahwa perioda (lama gerak osilasi satu ayunan, T) dipengaruhi oleh panjang tali dan percepatan gravitasi.
Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta.
Hukum gravitasi universal Newton dirumuskan sebagai berikut:
Setiap massa menarik massa titik lainnya dengan gaya segaris dengan garis yang menghubungkan kedua titik. Besar gaya tersebut berbanding lurus dengan perkalian kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa titik tersebut.
F adalah besar dari gaya gravitasi antara kedua massa titik tersebut
m1 adalah besar massa titik pertama
m2 adalah besar massa titik kedua
r adalah jarak antara kedua massa titik, dan
g adalah percepatan gravitasi
Dalam sistem Internasional, F diukur dalam Newton (N), m1 dan m2 dalam kilogram (kg), r dalam meter (m), dan konstanta G kira-kira sama dengan 6,67  10-11 N m2 kg-2
Dari persamaan ini dapat diturunkan persamaan untuk menghitung Berat. Berat suatu benda adalah hasil kali massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: W = mg. W adalah gaya berat benda tersebut, m adalah massa dan g adalah percepatan gravitasi. Percepatan gravitasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain.
GERAK HARMONIS SEDERHANA
Ketika beban digantungkan pada ayunan dan tidak diberikan gaya maka benda akan diam di titik kesetimbangan B. Jika beban ditarik ke titik A dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali lagi ke A. Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik, dengan kata lain beban pada ayunan di atas melakukan gerak harmonik sederhana.
 Periode
Benda yang bergerak harmonis sederhana pada ayunan sederhana memiliki periode. Periode ayunan (T) adalah waktu yang diperlukan benda untuk melakukan satu getaran. Benda dikatakan melakukan satu getaran jika benda bergerak dari titik di mana benda tersebut mulai bergerak dan kembali lagi ke titik tersebut. Satuan periode adalah sekon atau detik.
Amplitudo
Amplitudo adalah pengukuran scalar yang non negative dari besar osilasi suatu gelombang. Amplitudo juga dapat didefinisikan sebagai jarak terjatuh dari garis kesetimbangan dalam gelombang sinusoide yang kita pelajari pada mata pelajaran fisika dan matematika.
Pada bandul matematis, periode dan frekuensi sudut pada bandul sederhana tidak tergantung pada massa bandul, tetapi bergantung pada penjang tali dan percepatan gravitasi setempat. Pada kondisi seprti itu, untuk mencari percepatan gravitasi kita menggunakan rumus::
T = 2π    , atau g = (2π)2.l/T2
                                                                        g

T adalah periode
l adalah panjang tali
g adalah percepatan gaya gravitasi
D.   Proseder Praktikum

Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan percobaan ini adalah:
a.      Mengatur alat seperti pada gambar.
b.      Pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali percobaan dengan panjang tali yang berbeda
c.      Memasang tali pada ujung penyangga bandul kemudian memasang beban besar yang diberikan asisten dengan panjang tali yang telah diberikan.
d.      Memberi simpangan kecil pada bandul (sepanjang 10 cm atau 12o).
e.      Mencatat waktu yang diperlukan untuk 15 kali ayunan tersebut ke dalam form pengambilan data yang telah di berikan asisten.
f.        Mencatat waktu ayunan untuk 30 kedalam form pengambilan data.
g.      Mengulangi langkah  a-f  sampai percobaan terakhir
h.       Melakukan hal yang sama yaitu langkah a-f dengan mengganti beban yang lebih kecil yang telah disediakan oleh asisten.

E. Data Hasil Praktikum

Dari percobaan yang telah dilakukan dan data-data yang diperoleh untuk bandul matematis maupun fisis kemudian dilakukan analisa data sebagai berikut :
1.       Bagian Pengambilan Data
a.      Bandul Kecil (50 gram)
NO
l (cm)
t (dtk)
T
X (l)
Y (T2)
X.Y
X2
1
30
22, 12
1,106
30
1,223
36,69
900
2
27
21, 07
1,053
27
1,109
29,943
729
3
24
20, 31
1,015
24
1,030
24,72
576
4
21
19, 20
0,96
21
0,921
19,341
441
5
18
17, 44
0,872
18
0,760
13,68
324
S



120
5,043
124,374
2970



Penggambaran grafik menggunakan regresi linear sebagai berikut :
Misalkan persamaan garis  y = bx + a, koefisien-koefisien b dan a dapat ditentukan:

      dan    


b  =                           a =  

b  =                                          a =  

b  =         = 0,0371                                                            a =         =  0,1182
b  = 3,71                                                                                              a  = 11,82
maka persamaan garisnya adalah : y = bx + a
y = 0,0371x + 0,1182
percepatan gravitasi pada bandul kecil :
g             =  4 2/b
                =  4 (3,14)2 /(3,71)
                =  10,6 meter/detik2

Gambar: Grafik Bandul Kecil Matematis

b.      Bandul Besar(100gram)

NO
l (cm)
t (dtk)
T
X (l)
Y (T2)
X.Y
X2
1
30
22, 82
1,141
30
1,301
39,03
900
2
27
21, 93
1,0965
27
1,202
32,454
729
3
24
20, 08
1,004
24
1,008
24,192
576
4
21
19
0,95
21
0,902
18,942
441
5
18
18, 62
0,931
18
0,866
15,588
324
S



120
5,279
130,206
2970


Penggambaran grafik menggunakan regresi linear sebagai berikut :
Misalkan persamaan garis  y = bx + a, koefisien-koefisien b dan a dapat ditentukan:

      dan    


b  =                           a =  

b  =                                         a =  

b  =         = 0,039                                                              a =         =  0,1198
b  =    3,9                                                                                           a =   11,98

maka persamaan garisnya adalah : y = bx + a
y = 0,039x + 0,1198

percepatan gravitasi pada bandul besar :
g             =  4 2/b
                =  4 (3,14)2/(3,9)
                =  10,11 meter/detik2

Gambar: Grafik Bandul Besar Matematis


TUGAS PENDAHULUAN
1.                         Tanda minus ( – ) menyatakan arah dari percepatan berlawanan dengan arah simpangan,tanda minus (-) juga menunukkan arah gaya pemulih yang berlawanan dengan arah simpangan.
2.                         Berikut pembuktian persamaan 4.3 dan persamaan
Pada gambar di atas tampak sistem bandul benda bermassa m yang disimpangkan pada sudut kecil terhadap sumbu vertikal. Berikut ini adalah penurunan persamaan gerak harmonis sederhana dan periode pada pendulum.
TUGAS AKHIR

1.       Dengan melihat grafik antara l dan T2, hitunglah besar percepatan grafitasi nya
2.       Bandingkan hasil saudara peroleh dari rumus (3-1) dengan g yang didapat dari rumus grafik !
3.      Mengapa simpangan yang di berikan harus kecil !
4.      Hal – hal apa saja yang menyebabkan kesalahan pada percobaan saudara !
5.      Berikan kesimpulan dari percobaan ini !

JAWAB :

1.       Percepatan Gravitasi pada Bandul Kecil :                  

g             =  4 2/b
                =  4 (3,14)2 /(3,71)
                =  10,6 meter/detik2

Percepatan Gravitasi pada Bandul Besar :

g             =  4 2/b
                =  4 (3,14)2 /(3,9)
                =  10,11 meter/detik2

2.       Dengan menggunakan rumus (3-1)
T = 2    .................... (3-1)
g = 4 ²l/T²
Percepatan Gravitasi pada Bandul Kecil :
1.       l  = 30 cm                                                  g  = 9,67 m/s2
2.       l  = 27 cm                                                   g  = 9,601 m/s2
3.      l  = 24 cm                                                   g  = 9,18 m/s2
4.      l  = 21 cm                                                    g  = 8,99 m/s2
5.      l  = 18 cm                                                   g  =  9,34 m/s2

g  = (9,67 + 9,601 + 9,18 + 8,99 + 9,34) / 5 = 9,35 m/s2

Percepatan Gravitasi pada Bandul Besar :
1.       l  = 30 cm                                                  g  = 9,09 m/s2
2.       l  = 27 cm                                                   g  = 8,85 m/s2
3.      l  = 24 cm                                                   g  = 9,39 m/s2
4.      l  = 21 cm                                                    g  = 9,18 m/s2
5.      l  = 18 cm                                                   g  = 8,19 m/s2

g  = (9,09 + 8,85 + 9,39 + 9,18 + 8,19) / 5 = 8,94 m/s2

3.      Agar periode waktu yang di peroleh juga semakin kecil. Karena simpangan dan periode berbanding lurus, jadi jika simpangan sudutnya kecil maka periodenya pun akan semakin kecil.
4.      Hal – hal yang mengakibatkan kesalahan dalam percobaan :
o   Kurang tepatnya cara melepas bandul sehingga gerakan ayunan menjadi miring.
o   Pengukuran waktu yang kurang tepat, ketika melepas bandul dan menekan tombol stopwatch.
o   Kurang tepatnya pemberian simpangan sudut sesuai yang di tentukan yaitu sebesar 45o.
5.      Dari hasil percobaan dapat di simpulkan bahwa semakin panjang tali yang di gunakan untuk menggantungkan bandul maka semakin besar pula nilai periode dan waktunya. Selain itu, semakin berat beban yang digunakan, maka semakin cepat percepatan gaya gravitasinya dan begitu pula dengan periodenya. Karena beban dan gravitasi saling berhubungan dan tegak lurus.

G.KESIMPULAN

Dari hasil percobaan di atas dapat di simpulkan bahwa semakin panjang tali yang di gunakan untuk menggantungkan bandul maka semakin besar pula nilai periode dan waktunya. Selain itu, semakin berat beban yang digunakan, maka semakin cepat percepatan gaya gravitasinya dan begitu pula dengan periodenya. Karena beban dan gravitasi saling berhubungan dan tegak lurus.
Apabila sebuah bandul matematis dan bandul fisis digantung kemudian diberi  simpangan kecil , maka bandul akan berayun dan melakukan gerakan harmonis sederhana. Dengan dasar gerakan harmonis sederhana ini maka dapat dihitung besarnya percepatan gravitasi bumi di tempat dimana percobaaan dilakukan dengan cara mengukur panjang tali dan periode pada bandul matematis. Massa bandul tidak berpengaruh pada besarnya percepatan gravitasi sedangkan panjang tali berbanding terbalik dengan kuadrat periode.